Make your own free website on Tripod.com

MORAL CERITA ANAK

by : mBah DIDI

Ada sebuah cerita lama yang bermula dari negeri Tiongkok sana. Syahdan, hiduplah seorang kakek tua, telah bertahun-tahun mengerjakan sesuatu yang tampaknya mustahil bagi orang kebanyakan. Dari pagi hari hingga petang waktunya dihabiskan untuk menggempur, menggigis, memecahkan dan mengangkut batu-batuan gunung ke tanah kosong di belakang rumahnya. Seorang tetangga yang melihat kejadian itu pernah sekali menegurnya, "Apa yang bapak kerjakan ?" "Memindahkan gunung karang ini !" jawab kakek tua singkat "Bagaimana mungkin?" sergah tetangganya penasaran. Kakek tua itu, seraya kembali sibuk menggempur batu-batu yang malang melintang di depannya, menjelaskan, "Hari ini saya angkut sedikit. Besok sedikit lagi. Besok besoknya sedikit lagi. Dan bila saya mati, anak saya akan menggantikan saya meneruskan pekerjaan ini. Ketika anak saya mati, cucu sayalah yang harus menggantikannya, lalu .. !" Sang tetangga terperangah kagum, sambil geleng-geleng kepala ia bergumam lirih, "Kakek tua hebat ! Kakek tua sinting .....!" Kisah kakek tua pemindah gunung, di tanah Tiongkok selalu dituturkan kembali oleh bapak kepada anak-anaknya, dari generasi ke generasi. Si kakek tua sinting berubah menjadi sosok pahlawan, menjadi legenda hidup di mata anak-anak. Posisinya dapatlah disejajarkan dengan kisah keadilan Hakim Bao, tangan dewa tabib Bu Pun Su, serta legenda Dewi Kwan Im yang amat welas asih. Boleh jadi ketenarannya melebihi sosok kaisar Chin Shih Huang Ti si pembangun tembok besar, keperkasaan pendekar kera sakti Sun Go Kong, maupun kecerdasan seorang Zhuge Liang - salah seorang tokoh penting dalam episode Sam Kok Konon, di luar tembok kota terlarang Beijing, pada suatu masa pernah menjulang tinggi sebongkah gunung batu. Menurut yang empunya cerita, ribuan petani bersepakat untuk bahu membahu menggempur dan menggigisnya siang malam. Mereka punya satu tujuan pasti, mengubah gunung batu itu menjadi lahan pertanian. Dari kisah selanjutnya kita semua tahu, bahwa di salah satu kaki gunung batu itu pernah terpampang sebuah kalimat dalam huruf-huruf besar lagi menyolok, "Kakek tua sinting, ayo pindahkan gunung ini ...!" Memang, moral cerita yang kita petik dari kisah kakek tua di atas bukanlah elan kesabaran tak berkesudahan terhadap proses perubahan yang berlangsung sangat lambat. Bukan itu, melainkan keuletan dan semangat kerja yang sungguh awet. Itulah moral cerita itu. Orang-orang Tiongkok rupa-rupanya selalu ingin menekankan, bahwa setiap episode sejarahnya, setiap perjalanan hidupnya adalah sebuah long march, perjalanan panjang yang kerap berasa pedih sekaligus menyakitkan. Bahkan sepintas tampak seperti kesia-siaan belaka, penuh dengan pengorbanan yang menyengat hingga ke tulang sumsum. Mereka hanya punya satu keyakinan, tujuan yang hendak diraih begitu berharga lagi mulia. Oleh karena itu tak ada alasan untuk membuangnya jauh-jauh ke dalam tong sampah. Oleh karenanya, anak-anak mereka dibiasakan menabung untuk hari esok. Besar uang tabungannya mungkin cuma seratus dua ratus perak setiap harinya. Akan tetapi bila tabungannya sampai berbilang satu, dua, lima hingga puluhan tahun, berapa jumlah uang yang terkumpul ? Lebih dari sepuluh bulan tetangga sebelah rumah, seorang buruh kasar tionghoa tak malu-malu untuk makan bubur encer berlauk goreng teri. Selama masa pahit ini, setiap hari ia sengaja menyisihkan sebagian uang makannya – ditabung. Hasilnya adalah sebuah becak. Setahun berikutnya menjadi tiga becak. Dan kini ia punya empat angkot yang nangkring di dalam garasinya. Kisah kakek tua tadi, singkatnya, adalah pralambang mengenai kesungguhan dalam berusaha dan bekerja guna memperbaiki kesejahteraan hidup. Suatu kerja keras tak berkesudahan untuk mengubah peruntungan nasib. Yang mau tidak mau harus dilakukan oleh setiap manusia. Gebyarnya jelas berbeda dengan gegap gempita sebuah pesta. Dalam kerepotan dan keriuhan pesta yang cuma sekejap itu, badan bisa capek bukan main. Akan tetapi, lampu-lampu toh nantinya bakal bersinar terang, minuman, kue-kue dan aneka nyamikan lain tersaji rapi di atas talam. Anak-anak berpakaian bagus berlarian kian kemari, bapak-bapak dan ibu-ibu berbau harum mengumbar senyum riang. Lagu diputar keras-keras sampai memekakkan gendang telinga di ujung desa. Untaian janur, umbul-umbul, rumbai-rumbai dan hiasan lainnya terpasang rapi. Seluruh kerabat, kawan dan tetangga pada ikut menengok, membantu ala kadarnya, ketawa, dan makan kenyang. Sungguh, sampai hari ini banyak orang sangat menyukai kemeriahan pesta semacam itu. Orang tak perlu malu-malu, apalagi mangkir lagi untuk tidak larut dalam ingar bingarnya. Anak lahir, artinya makan-makan. Kerabat kawin, makanan melimpah ruah. Tetangga ulang tahun, nasi tumpeng tak bakal terlupakan. Keponakan naik kelas atawa lulus ujian, tumpengan juga. Pun ketika ada kematian, itu besekan namanya. Bahkan saat orang pergi dan pulang haji pun masih perlu diadakan syukuran plus acara makan-makan. Maka jangan tanya lagi bila ada acara pembukaan itu, peresmian ini, penyambutan anu, perayaan abrakadabra .....Itu pesta namanya. Makan-makan kelanjutannya. Yahh, acara makan minum dan pesta-pesta sudah jadi bagian tak terpisahkan dari agenda hidup orang banyak. Dan naga-naganya, apa yang disebut sebagai kerja adalah kegiatan rutin yang ujung-ujungnya bermuara pada keriuhan pesta. Untuk kerja keras menggigis batu gunung selama puluhan tahun ? Wallahi ! Di jaman baheula Sangkuriang sanggup membikin danau dengan cara membendung aliran kali Citarum dalam tempo semalam saja. Ketika Raden Bandung Bandawasa membangun candi Rara Jonggrang, ia membutuhkan waktu kurang dari satu malam. Pun legenda Naga Krakatau dan Naga Karimata, yang mengisahkan terjadinya pulau Karimata, Bangka, Bintan, dan Krakatau di jaman baheula cuma menghabiskan waktu sepenggal malam. Apa boleh buat, dongeng-dongeng yang tersebar di tengah kita hanya berkisah tentang pahlawan, sang jagoan yang meraih sukses dengan mudah. Melalui sim salabim ditambah segudang benda ajaib lainnya. Di negeri kita ada sejumlah pengusaha berubah jadi konglomerat cukup dalam bilangan tahun. Nun di Jepang sana, keluarga Matsushita musti merintisnya selama lebih dari enam generasi. Alexander Fleming berhasil menemukan penicilin setelah melakukan riset intensif lebih dari delapan tahun. Thomas Alfa Edison berhasil membuat bohlam lampu listrik setelah bekerja keras dalam bengkelnya selama dua belas tahun. Sementara itu kita malah suka bertingkah sebaliknya. Mau dibilang wanita modern dan trendy ? Cukup tenteng majalah wanita kemanapun Anda pergi. Ingin tampil lebih percaya diri pakailah Rexona. Jadi pria jantan ? Isaplah Gudang Garam merah. Malu dibilang kambing congek ? Bacalah koran .... Lha kalau pingin jadi wanita idaman ? Setiap bakul jamu sudah paham betul jawabnya. Dan anak-anak kian bingung mencernanya. Untuk kerja keras menggigis batu gunung selama puluhan tahun ? Entahlah ! Yang jelas kita tak punya dongeng kanak-kanak yang mirip dengan kisah kakek tua dari Tiongkok. Padahal semua orang mafhum sudah, untuk menyusun buku kumpulan hadits shahihnya, Imam Bukhari menghabiskan waktu 14 tahun. Dan itu pada galibnya kerja keras tak berkesudahan. Imam Gazhali perlu waktu delapan tahun untuk menyelesaikan karya besarnya, Ihya Ulumuddin. Omar Khayyam musti begadang di malam hari mengamati gerak bintang-bintang di langit selama dua belas tahun, guna melengkapi tabel astronomi dan hitungan almanaknya. Di Semarang, Mohammad Dahlan Zarkasy berhasil menyusun metode baca tulis Al Qur'an setelah berkutat lebih dari dua puluh tahun di dunia pengajian anak-anak. Kisah orang-orang yang meraih sukses lewat kerja keras dan cucuran keringat dalam tempo berbilang tahun tidak populer di benak anak-anak kita. Kebanyakan cerita berkisar pada masalah klasik, asal punya mau dengan kebut semalam jadilah. Alur ceritanya pun mudah ditebak. Sang jagoan senantiasa beroleh faktor kebetulan, jalan kemudahan, serta ajian pamungkas dalam menuntaskan setiap persoalan dan meraih puncak keberhasilannya. Cara penyelesaian yang lebih logis, terencana, menyita banyak waktu dan diimbangi dengan kerja keras jarang dipaparkan. Asal tahu saja, Rasulullah saw berhasil memancangkan tonggak tauhid di wilayah Mekah dan Madinah setelah bekerja keras lebih dari 22 tahun. Pengorbanan tenaga, pikiran, dana, dan waktu yang dibutuhkan jelas tidak sedikit. Sayangnya, diri kita gemar mengabaikan teladannya.

PEMBINA 'NGABUR'

Oleh : Wijaya Kusuma-nya Kresna

Sore itu, Sijo, Sikun, dan Sibang lagi sibuk banget keliatannya. Katanya, sih, mau memasak. Mereka mau memasak ? Laki-laki ? Emansipasi katanya. Yah, biarlah mumpung sekost. Ngirit duit katanya. Sampai di situ emang nggak masalah. Masalah adalah ketika mereka mulai ngumpulin bahan yang mau dimasak. "Jo, bawa apa kamu ?" tanya Sikun. "Bawa tewel (nangka muda). Lha kamu ?" "Aku sih bawa wortel, makaroni, kentang de el-el buat masak sup kesukaanku," kata Sikun . Sibang datang dengan santainya dengan membawa tahu. Begitu tahu bahwa mereka membawa bahan yang nggak sinkron, mereka semua melongo. Kenapa ? Karena mereka cuma mau bikin satu jenis masakan. Kesalahan mereka adalah nggak kompakan dulu mau masak apa. Selanjutnya gimana ? Sijo lalu bilang, " Ah, dari pada mubazir tetep aja masaknya ." "Mau masak apa ?" tanya Sikun. "Campurin aja semuanya. Siapa tahu jadi enak." "Boleh juga eksperimennya. Cobain aja deh." Lalu mereka memasak itu itu semua. Hasilnya ? Udah baru masak pertama kali, nggak jelas lagi menunya. Amburadul deh. Bahkan Sibang sampai 'nggak tega' memakan masakannya sendiri. Nah, lho ! kalo udah gitu siapa yang bertanggung jawab. ***************************************** Ketika seorang calon Pembina mendaftarkan diri menjadi pembina PAS, mereka telah mempunyai obsesi-obsesi apa yang akan dilakukannya nanti kalo ia diterima sebagai pembina PAS. Banyak orang, tentu banyak karakter di situ.

Banyak harapan dan obsesi yang tersembul di situ. Banyak motivasi dan kepentingan yang bertumbukan di situ. Tentu saja, PAS harus merekrut pembina yang berpotensi bagi pelaksanaan program dan pengembangan PAS di masa depan. Di sinilah kaderisasi dimulai. Ketika proses perekrutan telah dilaksanakan, maka PAS harus segera memberikan pandangan untuk menyamakan 'langkah dan pikiran' agar kakak mengerti di mana sekarang ia berpijak. Ia harus mengerti masakan apa yang akan dia bikin agar semuanya sama-sama 'langsung enak'. Tapi, yang jelas, seperti halnya masak-memasak, langkah-langkah kaderisasi harus jelas digariskan dan semua pembina harus mengerti kenapa saya harus melalui tahap itu, sehingga tak ada istilah 'kelebihan garam' lah, kurang pedaslah atau sebagainya istilahnya. Tapi udah ngerti,kan, maksudnya?). Penyusunan konsep untuk kaderisasi ini harus mempertimbangkan banyak hal, seperti asumsi berapa lama pembina bisa bertahan di PAS, aspek apa saja yang perlu diberikan kepada kader, arahan yang jelas, keterpaduan atas potensi diri, bermasyarakat, dan faktor lingkungan. Dan yang paling penting kesinambungan. Suatu fenomena yang cukup menggelitik adalah kaburnya pembina PAS sebelum habis 'masa baktinya' berakhir sebagai mana janjinya kepada pewawancara. Soalnya, kalo ada yang ngabur pewawancara berceloteh, bahwa dia termakan "jani-janji surga" (Cailah) yang diwawancarai. Tentu saja kita nggak dapat memvonis bahwa itu adalah salah orangnya sendiri atau salah pewawancaranya. Soalnya, banyak faktor yang (mungkin) berpengaruh di situ. Pertama, soal faktor lingkungan di PAS. Mau nggak mau kita harus jujur bahwa bagi sebagian pembina, kondisi di PAS saat ini tak sesuai dengan nurani mereka. Mereka berasumsi bahwa ketika mereka masuk ke lingkungan organisasi Islami, suasana Islami yang kental akan mereka dapatkan di situ. Hal ini ditambah lagi dengan adanya kakak yang susah beradaptasi dengan lingkungan PAS yang cukup 'ganas tapi familiar'. Pokoknya, sebenarnya harus diciptakan suasana lingkungan yang kondusiflah (kayak kata pejabat aja1) supaya kakak betah di PAS. Kedua, soal harapan PAS kepada mereka. Banyak yang berasumsi bahwa PAS terlalu mengharap perhatian kepada kakak pembina atau dengan kata lain PAS membebani mereka. Ketiga, ini berbau teknis. Biasanya, rentang waktu antara akhir penataran dan pembukaan semester terlalu jauh, sehingga kakak mengalami masa reses yang terlalu panjang. Kalo yang ini mah udah diantisipasi oleh pengurus sekarang. Itu cuman sekelumit ajah. Masih banyak faktor yang lain yang perlu dijelaskan agar konsep kaderisasi dari berbagai orang terakomodasi dengan baik. Perlu keterbukaan dalam menerima konsep kaderisasi sehingga konsep yang dihasilkan benar-benar matang dan kita pun dengan enak menikmatinya. Selamat 'memasak' pembina, PAS-ku tersayang !!! Semoga 'enak' produknya.

Inilah saatnya ! by : Kang Sastro

Beberapa minggu yang lalu, kang Sastro mendengar kabar bahwa palaksanaan Taman Pendidikan Al Qur'an (TPA) dan Taman Kanak-kanak Al Qur'an (TKA) semakin jauh dari kodrat anak-anak. Seperti diungkapkan oleh Pak Asep Zaenal Aushof yang menjadi ketua Badan Koordinasi Pemuda dan Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) wilayah Jawa Barat, pelaksanaan TPA dan TKA cenderung meninggalkan unsur permainan dalam pelaksanaan belajar mengajarnya. Selain itu kang Sastro melihat adanya penurunan antusiasme masyarakat terhadap pelaksanaan TPA danTKA pada saat ini. Tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa palaksanaan program nasional yang dicanangkan sekitar tahun 1993 itu masih berjalan. Bisa jadi bahwa keberhasilan pelaksanaan tahap awal TPA dan TKA dengan metode Iqro' sudah menghasilkan generasi muda Islam yang pandai membaca dan menulis Arab, sebagai bahasa yang dipakai dalam kitab suci Al Qur'an. Mungkin yang menjadi masalah adalah pelaksanaan dan materi tahap lanjutannya. Sayang kang Sastro belum sempat main-main ke Kotagede, pusat riset dan pengembangan metode Iqro'. (Insya Allah, kalau memang diperlukan informasinya, suatu saat kang Sastro juga pengen main ke sana.) Kemudian lagi, kang Sastro cukup sedih dengan kenyataan bahwa Karisma Salman ITB, yang dulunya sempat menerima penghargaan dari UNESCO sebagai satu organisasi LSM kepemudaan berprestasi, saat ini hanya menerima anggota sekitar 150 adik. Padahal 10 tahun yang lalu, jumlah adiknya melebihi 2000 orang. Namun kang Sastro bersyukur begitu mendengar jumlah adik PAS mencapai angka sekitar 400 adik. Kang Sastro jadi ingat akan hasil Musyawarah Kerja PAS pada awal tahun 1993, bahwa idealnya PAS itu jumlah adiknya sekitar 400 orang saja. Perlu diketahui bahwa jumlah adik PAS saat itu sekitar 750 orang adik, suatu jumlah yang dirasa memberatkan untuk memposisikan diri sebagai laboraturium pembinaan anak. Dan sepengetahuan kang Sastro, keinginan untuk memposisikan diri sebagai tempat penelitiaan dan pengembangan pembinaan anak masih ada di PAS, sebagai hasil musyawarah kerja yang terakhir, awal 1997 kemarin. Dan kalau di runut, kok ya jumlah adik PAS selama beberapa tahun terakhir menunjukan angka yang hampir sama, sekitar 400 adik. Insya Allah ini adalah suatu tanda bahwa hitungan ideal kakak-kakak PAS jaman dulu itu tidaklah mengada-ada. Kalau dilihat jumlah pembina PAS yang tidak terlalu jauh berbeda dengan jumlah pada awal tahun 1993, bisa dibilang bahwa hitungan ideal untuk menjadikan PAS sebagai laboratorium pembinaan anak masih berlaku untuk saat ini. Diasumsikan saja bahwa kualitas sumber daya pembina yang ada adalah sama dengan pada saat itu, karena motivasi dan kompetensi yang tidak jauh berbeda. Kang Sastro jadi ingat pada tahun 1989. Ketika itu FOSIPA (Forum Silaturahmi Pengasuh Pembinaan Anak-anak) Nasional pernah menantang PAS untuk menciptakan suatu metode pembinaan baca tulis Al Qur'an untuk anak-anak. Tapi tantangan itu diambil orang lain dengan munculnya metode Qiro'at. (Kak Ali tahu tentang hal ini. Mau tahu lebih banyak. Tanya saja beliau!). Metode Qiro'at kurang berkembang di masyarakat karena ketatnya persyaratan dalam mempelajarinya. Lalu tahun 1992, Pak Humam As'ad dari Kotagede, Yogya memeperkenalkan metode Iqro' yang kemudian disusul dengan berdirinya TPA dan TKA, bahkan jadi program nasional. Dan pada tahun 1995 lalu, kiai dari Cirebon memperkenalkan metode baru yaitu LIBAT (Lihat, Baca dan Tulis) sebagai metode cepat mempelajari baca tulis Al Quran. Dilihat dari perkembangan metode tersebut (dari Qiro'ati ke Iqro' lalu ke LIBAT), boleh dibilang mereka menawarkan efektivitas waktu mempelajari baca tulis Al Qur'an dibanding dengan cara sorogan (massal). Bahkan kalau Iqro' diperlukan waktu sekitar 6 bulan untuk menghabiskan 6 seri bukunya, maka metode Libat menjanjikan hanya dalam waktu kurang dari 1 pekan. Bisa jadi efektivitas waktu yang diberikan tersebut, akhirnya menghilangkan efesiensi yang diharapkan dari pembinaan anak-anak. Semua institusi pembinaan anak-anakIslam memiliki keinginan agar anak didiknya mau mempelajari Al Qur'an dengan sebaik-baiknya. Jalan yang ditempuh kebanyakan adalah dengan mengenalkan terlebih dahulu pengetahuan baca tulis huruf Arab, sebagai aksara yang dipakai dalam Al Qur'an. Kang Sastro tidak menyalahkan sepenuhnya jalan yang ditempuh tersebut, karena dari satu sisi adalah benar. Hanya saja. efesiensi dari pengajaran Al Qur'an tersebut banyak diabaikan karena mengejar agar anak didik cepat mengerti baca tulis Al Qur'an. Efesiensi di sini meiliki pengertian untuk masa yang panjang. Kang Sastro melihat bahwa inti dari pengajaran Al Qur'an adalah bagaimana agar anak didik bisa mencintai Al Qur'an sepenuhnya, bukan pada kemampuan untuk baca tulis huruf Al Qur'annya. Jadi yang dipentingkan adalah kecintaan akan Al Qur'an. Bukan berarti bahwa kemampuan baca tulis Al Qur'an itu tidak penting, hanya prioritasnya saja yang kalah. Dan dari kecintaan anak akan All Qur'an dengan sendirinya akan membentuk keinginan untuk mempelajari huruf Al Qur'an itu, begitu penalarannya. Mungkin ini satu tantangan bagi PAS untuk menelorkan suatu konsep metode pembelajaran untuk mencintai Al Quran. Mungkin dengan konsep 'unit' yang sekarang merupakan cikal bakal konsep metode tersebut. Kang Sastro melihat ada hal yang memungkinkan itu, dimana anak didik diajarkan untuk mencintai al Qur'an dengan media hobi atau bakat yang mereka miliki. Boleh jadi pandangan itu terlalu optimistik. Jadi tinggal diadakan perhitungan kemungkinan realisasinya. Masih banyak waktu untuk berkarya. Kalau dihitung-hitung tidak mungkin untuk dilaksanakan dalam waktu dekat, mungkin untuk jangka panjang kalau tidak mungkin dilaksanakan di PAS, mungkin di institusi lain yang insya Allah akan di bentuk oleh kakak semua, untuk anak-anak kita . Jadi ... inikah waktunya? Yogyakarta, 7 Oktober 1997

GONJANG - GANJING ( ISTIGHFAR-LAH ! )

Oleh : Wijaya Kusuma-nya Kreshna

Suasana rumah Pak Bondet beberapa hari ini nggak nyaman. Selalu ada saja yang diributkan dalam keseharian. Masalah sepele pun akhirnya menjadi gede. Rumah yang udah kecil dan pengap pun terasa semakin panas lagi.

'Suhu' rumah sedang meningkat pesat. Tampaknya semuanya dalam kondisi 'high-temp' dengan kondisi seperti ini. Sedikit saja perselisihan seolah jadi masalah besar. Semuanya jadi mudah panas. Sebenarnya ada apa sih ? Keluarga Pak Bondet sedang diliputi gonjang-ganjing maha dashyat. Pak Bondet sekarang benar-benar 'mumet'. Usaha 'pemasaran hasil perkebunan dan buah-buahan' miliknya benar-benar 'diguncang'. Walau cuma dagang sayuran dan buah-buahan secara keliling, ternyata kenaikan harga dollar cukup berimbas selain alasan kemarau panjang tentunya. Banyak pelanggan yang protes atas naiknya harga. Langganannya banyak yang protes begitu mendengar kenaikan harga walau tak sekejam harga akibat inflasi. " Gaji pegawai nggak naik kok harga naik," begitu protes pelanggan " Lha gimana lagi, lho, Bu ! Lha wong dari rega kulakane (harga belinya) memang naik. Jadi, mohon Ibu-ibu ngerti. " " E, mbok ya ditanyakan sama bandarnya kok naik, sih ? " " Sudah. Alasannya sih kan lagi musim kemarau plus katanya adanya gunjang-ganjing apa itu ... dokar ! Ya, dokar kalo nggak salah !" " Dollar, Pak Bondet !" sahut Bu Marni yang memang agak cerewet. Pak Bondet hanya melongo plus manggut-manggut seolah mengerti. Padahal dari wajahnya kelihatan sekali ia bingung apa itu dollar. " Lho, kalo tahu kemarau itu bahan makanan jadi langka, mbok yao sosial dikit. Diturunin gitu harganya. Jangan sok kapitalis. Nggak malah membumbung seperti sekarang. Kayak rentenir aja, " kata Bu Rahmat. " Waduh, saya itu kawula alit (orang kecil), Bu! Nggak ngerti apa-apa soal itu. Yang penting bagi saya, saya jualan dan saya untung walau sedikit." Syahdan, kenaikan harga bahan makanan ini menyebabkan menurunnya omset penjualan dagangan Pak Bondet. Terang aja sekarang wajah Pak Bondet sekarang sering kusut. Pokoknya, dari segi pendapatan lagi seret. Bisa dibilang, perekonomian keluarga Pak Bondet lagi amburadul. Hampir collapse mungkin. Nggak kebayang bagaimana ketika nanti para 'investor' yang memasok hasil perkebunan dan buah-buahan itu menagih haknya. Bisa jadi, yang membayarnya harus anak cucunya Pak Bondet nanti. Gawat, kan ? Kasihan anak cucunya yang nggak ngerti duduk perkaranya dan akadnya serta hanya menikmati sedikit saja hasil pinjaman Pak Bondet itu, tapi harus menaggung akibatnya. Istilah Jawanya, ora melu mangan nagkane, kena pulute (nggak ikut merasakan nikmatnya buah nangka, tapi harus ikut menanggung sampahnya). Belum lagi masalah itu usai dipecahkan, kompor yang ada di rumahnya 'meleduk'. Udah kompor rusak, separuh dari dapurnya yang terbuat dari bambu ikut terbakar, eh .... tetangganya ada yang menuntut ganti rugi atas musibah 'asap' itu . Lho, apa pasalnya ? Soalnya, anak tetangganya yang sakit asma jadi kumat gara-gara menghirup asap itu. Nah lho ! Sempat juga pecah 'perang Vietnam' beberapa hari yang disusul dengan GTM (Gerakan Tutup Mulut) dua tetangga yang sebelumnya sempat akur. Lucu juga . Untungnya, karena merasa senasib sepenanggungan, sama-sama orang kecil, sama-sama melarat, sama-sama marginal, sama-sama harus siap digusur, keduanya akur kembali. Oalah .. indahnya persahabatan kalo sudah begini. Masalah satu belum selesai, timbul lagi masalah. Bu Bondet beberapa kali salah ngomong sehingga ada tetangga yang tersinggung. Nah lho ! Sebagai 'pucuk pimpinan' rumah tangga, selain harus menasihati sang istri, tentu saja Pak Bondet harus meng-'clear'-kan urusan itu. Apalagi beberapa kebijakan tentang kebijakan 'moneter' rumah tangga juga agak amburadul akibat kesalahan dari pengambilan kebijakan sang istri. Secara teoritis, perekonomian Pak Bondet harusnya menanjak. Tapi, gara-gara kesalahan pengaturan keuangan, jadi amburadul. Buktinya sekarang ketika Menik, anak Pak Bondet yang semata wayang sakit, mereka kelimpungan cari pinjaman. Ini yang membuat mumet Pak Bondet. Kalo menteri udah salah kan sudah selayaknya mundur, baik dengan mundur sendiri atau dimundurkan oleh yang paling berwenang ? Kalo istri ? Wah, nggak mungkin kan diminta mundur jadi ibu rumah tangga atau 'dipecat' karena nggak sanggup mengatur rumah tangga ? Tapi yang jelas, istri lebih tahu diri.

************************************* Malam itu, aku berbincang cukup serius dengan Pak Bondet. Aku memang cukup dekat dengan Pak Bondet. Kelihatannya dia juga sangat menghormatiku. " Aduh ... rasanya musibah demi musibah silih-berganti datang dan pergi. Pusing rasanya. " " Sabarlah, Pak ! Kan ketika Allah memberikan musibah pasti ada maksud Allah di situ. Yang saya dengar dari Pak Agym, musibah itu bisa jadi ujian. Ujian bagi orang-orang yang mukmin. Di situ Allah menguji keimanan hambaNya dengan ditimpakan kesusahan. Seperti Nabi Ayyub itu lho ! Diharapkan keimanan dan ketawakkalan seorang hamba semakin meningkat sehingga sang hamba semakin dekat padaNya. Tapi bisa jadi musibah itu azab kecil bagi orang-orang yang ingkar pada aturannya, " kataku perlahan karena takut menyinggung perasaannya. Pak Bondet menghisap rokoknya yang cuma tinggal tiga senti-an. " Kalo menurut Dik Kreshna saya masuk golongan yang mana ?" " Walah ... Pak ! Saya nggak bisa menjawabnya secara pasti. Yang pasti instropeksi diri saja, Pak!" " Coba Dik Kreshna jujur gitu supaya saya bisa rada tenang." Kuatur nafas. Rada takut juga aku ngomong yang sebenarnya. Tapi, perkataan halus Pak Bondet itu membuatku berani bersuara. " Kalo melihat musibah yang bertubi-tubi itu dan melihat peri laku Pak Bondet selama ini ...e ...e ... menurut saya sudah saatnya Pak Bondet banyak beristighfar. Pak Bondet perlu mendekatkan diri lagi kepada Allah. Jangan terlalu sibuk bekerja sehingga melupakan segala aturan dan perintahNya. Mohon ampun kepada Allah atas segala kesalahan. Kalo perlu adakan gerakan taubat nasional di rumah Bapak." Wajah Pak Bondet mendadak berubah. Nada bicaranya jadi lumayan tinggi. " Gerakan taubat nasional di rumah ? Jadi, kamu pikir saya banyak berbuat dosa ? " Aku terkejut. Belum sempat kekagetanku hilang, Pak Bondet melanjutkan ucapannya : " Dik Kreshna sok ngerti ! Kan bisa jadi ini ujian dari Allah buat saya. Taubat itu milik pribadi. Bukan milik rumah. Bla ...Bla ... Bla ... " Saya nggak begitu ngedengerin lagi ucapan Pak Bondet yang cukup membuat merah telinga. Saya cuma bisa bengong menatap Pak Bondet 'mengoceh ngalor-ngidul' dan nggak satu pun ucapannya masuk dan nyangkut dalam memoriku. Pada akhir kalimatnya kulihat Pak Bondet membanting puntung rokoknya sambil ngeloyor pergi. Astaghfirullaahal adhiim ! Apa aku salah ngomong tadi ? Pikirku. Tapi, itulah karakter Pak Bondet yang saya kenal. Gengsi mengakui kesalahan dan kalau pun berbuat salah gengsi minta maaf. Gengsi juga menganggap musibah beruntun itu sebagai azab dan peringatan dari Allah. Orang pun boleh berpendapat tentangnya tapi nggak boleh yang minor. Oalah ... diminta mengakui kesalahan saja nggak mau, apalagi istighfar. Aku cuma berdoa supaya tipikal Pak Bondet ini tak menular pada pemimpin-pemimpin negeriku.

Astaghfirullaahal adhiim Selasa, 14 Okt 1997 jam 16.47 WIPAS in Lantai Tiga

ANAK INDONESIA NAIK JIN BOTOL

by : Kang Sastro

Selama dua bulan ini kang Sastro sempet risau. Tapi ketika akan menulis di KIPPAS...eh dibilang Redaksi lagi liburan. Sehingga baru sekarang bisa kirim tulisan, itupun setelah denger-denger liburan Redaksi sudah habis. Disela-sela waktu senggang masa liburan, kang Sastro biasa nonton TV untuk acara anak-anak. Biasa film kartun lucu, atau film super hero dan bahkan juga vidio klip anak-anak. Ya ... untuk mengikuti perkembangan dunia pertelevisian anak. karena boleh dibilang, saat ini sebagian besar anak Indonesia menjadi anak asuh televisi, terutama di daerah perkotaan. (Bahkan denger-denger kasus ini juga melanda dunia). Orang tua pun bisa kalah kalau anak lagi duduk di depan televisi. Tidak jarang kemenangan orang tua atas televisi lebih disebabkan sikap otoriternya (walau orang tua biasanya berlindung di balik perisai untuk mendidik anak, yang menjadi kewajibannya). Ditengah-tengah nonton tayangan video klip anak, kang Sastro mendengarkan syair sebuah lagu yang penggalannya kurang lebih :

..... Orang Amerika naik Apollo Orang Rusia naik Apollo Aku tidak mau kalah Naik Jin botol .....

Kalau tidak salah sih judulnya "Jin Botol" Sejumlah pertanyaan jadi timbul dibenak kang Sastro. Tidak salah atuh cara berpikir anak Indonesia ? Atau memang seperti itu, cara anak Indonesia hendak mengejar ketinggalan teknologinya dengan "grasshopper-leap"--keren kan, mengalahkan ide BJ. Habibie dengan cara "frog-leap"nya!!--? (Grasshopper-leap' itu ungkapan kang Sastro untuk lompatan yang tidak murni melompat, karena belalang pada kenyataannya menggunakan pula sayapnya ketika melompat dan hasilnya jauh.) Atau anak Indonesia sedang berupaya untuk bersekutu dengan jin dalam menjawab tantangan Allah untuk menembus jagad raya ini ? Kang Sastro tidak bisa menyimpulkan jawabannya yang mana. (Mungkin pembaca malah ada yang tahu?) Hanya saja yang menjadi pemikiran kang Sastro hendak dikemanakan anak Indonesia dengan lagu-lagu seperti itu. Terlepas dari sah tidaknya seseorang bekerja sama dengan jin, kang Sastro belum pernah mendengar adanya jin yang membawa kabar tentang keadaan alam semesta di luar sana. (Yang paling sering kang Sastro dengar adalah adanya kabar ghaib dari tabir langit yang dicuri dengar oleh jin, dan itupun tidak dijamin kebenarannya oleh Allah sendiri). Kalau begitu jadinya, apa yang akan diperoleh oleh anak Indonesia di masa depan tentu tidak lebih baik dari saat ini. Bahkan mungkin malah semakin jauh ketinggalan. Kondisi seperti itu menurut hemat kang Sastro hanyalah sikap memanjakan anak Indonesia dengan "mimpi" yang tidak akan dinyatakan, karena memang tidak diusahakan untuk tercapai. Belum lagi sikap-sikap lain yang cenderung membuat anak Indonesia sebagai anak kodok, sementara anak Jepang dididik menjadi seorang samurai dan anak-anak Israel digembleng dengan zionisme . (Pembaca bisa membaca buku "Salah Sang Kodok" karangan ... lupa euy ... tapi bukunya kecil kok.) Kang Sastro bicara tentang anak Indonesia, soalnya sebagian besar anak Indonesia adalan muslim. (Negara Indonesia kan negara muslim terbesar di dunia.) Lha kalau anak muslim Indonesia hanya akan menjadi anak cengeng ... kan sayang asset umat Islam masa depan itu. Mungkin karena alasan bisnis, tayangan video klip "Jin Botol" itu tetap menghiasi layar televisi. Belum lagi lagu anak yang tak mendidik lainnya,yang tetap saja nongol walau telah sering diprotes oleh kalangan pendidik. Dan anehnya, Departemen Pendidian dan Kebudayaan pun melakukan kontrol terhadap hal itu ... (Padahal kan tinggal bisikin Mentri Penerangan ... karena memang bukan wewenangnya.) Tapi kang Sastro jadi agak senang dengan munculnya Dhea (dari Trio Kwek-Kwek) Yang menyanyikan lagu "25 Rosul" dan beberapa lagu yang mendidik lainnya. Apalagi kalau Ahad Pagi nonton RCTI dalam acara 'Hikmah Fajar anak-anak', biasanya ada lagu-lagu dari 'Keluarga Hikmah Fajar' yang sarat dengan ajaran mulia. Kang Sastro kemudian jadi ingat dengan kaset lagu Padvoca PAS volume I dan II yang masih tersimpan di rak. Jadi kangen ... lalu kang Sastro memutar, mendengarkan dan menikmati lagu-lagu itu. Ternyata masih enak didengar ... dan bikin kangen lagi. Jadi inget masa lalu .. ketika kang Sastro ikutan nemenin adik-adik latiahan sampai rekaman. (Lho ... kok nostalgia begini.) Bagai setetes salju di tengah gurun Sahara, lagu-lagu itu dapat memberikan pompaan semangat dan ajakan renungan diri. Sedikit memang, tapi sangat penting untuk bekal mengimbangi dahaga. Yang pasti makin besar cita-cita yang ingin dicapai, maka makin besar pula tantangan yang akan dihadapi. Jadi kang Sastro pikir, semakin besar keinginan PAS untuk menyiapkan generasi Muslim Rabbi Radliyya untuk masa depan akan semakin banyak tantangannya.

Yogyakarta,29 Sept. 1997

DMO alias Disfungsi Minimal Otak

Oleh : Issey S. A.

Pernah denger yang namanya DMO, kalo nanyanya di kalangan psikolog atawa dokter, kata-kata itu familiar lho. Soalnya DMO itu sindrom yang cukup beken di kalangan pendidik dan pelaku kesehatan. DMO itu sendiri sesuai harfiahnya adalah suatu keadaan kurang berfungsinya salah kecil bagian dari otak kita tapi menimbulkan akibat yang cukup gede. Contohnya, kalo kakak pernah nonton Quantum Leap, nah disitu Scott Bakula pernah jadi seorang teman dari penderita Disleksia yaitu ketidakmampuan seseorang untuk membedakan pola-pola huruf, sehingga akhirnya apa yang dilihat oleh mata gak sesuai sama yang keluar di mulut, jadi neuron otaknya tuh agak-agak keseleo gitu. Nah ini bikin sang teman itu sering salah menangkap pengertian suatu kata, jadi ia malah dituduh gak bisa baca...ataw ada juga carita di Girl Talk, soal temannya Allison yang juga disleksia, namanya Billy, padahal dia aslinya cerdas, cuman ya gara-gara ketidaksinkronan neuron otaknya itu dia dianggap bermasalah sama sang guru, alias agak-agak gitu... Nah, ternyata fenomena DMO itu terjadi meluas lho, jadi hampir 10 % dari seluruh anak di dunia ini mengalami apa yang disebut DMO ini, cuman ya itu sayangnya banyak orang yang gak paham masalah itu, jadi aja banyak yang salah nangkep... misalnya ada seorang murid yang aslinya cerdas, IQ-nya OK tapi ternyata dia ngalamin DMO, sehingga ia dituduh bego sama sang guru. Umumnya banyak guru yang enggak ngerti bahwa anak ataw murid tersebut cuman DMO, bukannya gak cerdas. Padahal DMO tuh bisa diterapi lho. soalnya banyak beranggapan kalo ini penyakit yang tak bisa diterapi. Ehm... sebenernya kalo aja para pendidik dan pemerhati anak peduli sama masalah-masalah anak, maka mereka bakal tahu lho bahwa problem kognisi anak or murid mereka bukanlah suatu yang tak tersembuhkan.... Gara-gara kippas ini lagi buru-buru terbit, maka tulisan distop sampe di sini.

K a r n a I

Diceritakan kembali oleh : M. Ni'mal Fata

"Tidak! Ibu! Saya memang anak Ibu, namun hamba diberi makan oleh Hastina. Apakah Ibu akan membiarkan anakmu ini untuk tidak tahu diri dengan tidak membalas kebaikan penguasa Hastinapura terhadap saya?" sahut Karna ketika ibunya, Dewi Kunti membujuknya untuk memihak Pandawa sebagai pihak yang 'benar' dalam Bharata Yudha (perang saudara). Bharatayudha merupakan salah satu episode dalam cerita wayang, di mana terjadi perang saudara akibat kekeraskepalaan Kurawa yang tidak mau menyerahkan hak Pandawa. Lebih jauh baca buku-buku tentang wayang. "Mereka 'kan saudara kandungmu, Nak!" bujuk Kunti yang rupanya tidak tega melihat anak-anaknya saling berbunuhan. "Maafkan saya, Ibu! Bukan saya tidak berbakti, tapi Hastina sudah menjadi tanah air saya, saya bukan membela kejahatan Kurawa, tapi saya membalas budi baik Kurawa yang telah memelihara saya dan juga membela Hastina sebagai tanah air. Saya adalah ksatria, Bu! Maaf, sekali lagi maaf. Sudah menjadi dharma saya selaku ksatria harus membela negara saya. Rasanya sangat tidak sopan dan tidak tahu diri kalau saya tidak mendukung dan mempertahankan negara saya, karena Hastina diserang oleh Pandawa. Itu pendirian saya, Ibu. Harap Ibu maklum." Dewi Kunti pun putus asa, demikian kuat pendirian putranya. Sesungguhnya juga ia khawatir akan keselamatan anak-anaknya, terutama Pandawa yang dalam peperangan mendatang ini sebagai pihak yang "benar".

***

Alkisah, terjadi persaingan klasik antara Karna dengan Arjuna. Keduanya sama-sama tangkas dan trengginas. Sama-sama cerdas dan murid kesayangan Durna. Semasa kecil, Karna sering diejek oleh para Pandawa, karena dianggap anak kusir, jadi dianggap tidak sepadan dengan mereka yang memiliki kasta ksatria. Namun oleh Kurawa ia disenangi serta 'dipelihara' karena hanya dia yang bisa mengalahkan Arjuna dalam memanah dan berbagai ketangkasan lainnya. Dan ketika Duryudana menjadi raja, ia diberi gelar Adipati. Sehingga namanya menjadi Adipati Karna. Sejak kecil mereka (Pandawa dan Kurawa) sudah bersaing dalam berbagai hal. Dan selalu saja Kurawa dalam pihak yang kalah. Kemampuan mereka jauh di bawah Pandawa, terutama Arjuna. Karna, walaupun dianggap anak kusir, karena kusir istana memelihara dia sejak bayi setelah menemukannya di sungai terapung-apung dibuang oleh Dewi Kunti, ibunya, setelah berhubungan gelap dengan Bathara Surya Sang Dewa Matahari. Sedangkan Arjuna adalah anak Dewi Kunti dari Bathara Indra, Dewa Hujan. Sama-sama sakti dan cerdas. Keduanya juga susah untuk bersatu. Setiap mau bertarung, dalam hal apa pun, ayah mereka akan melindungi putranya masing-masing. Jadi, mereka memang lawan yang seimbang. Itulah salah satu tujuan Kurawa memelihara Karna, sebagai tandingan Arjuna yang tidak dimiliki oleh Kurawa. Sampai-sampai pernah diadakan semacam pertandingan antara Pandawa dan Kurawa. Dan lagi-lagi, Karna ikut, walaupun dia bukan dari golongan mereka waktu itu, dan memang hanya Karna yang dapat menandingi Arjuna dalam ketangkasan.

***

Perang pun terjadilah. Pertarungan antara Adipati Karna dengan Arjuna demikian sengitnya. Keduanya tidak ada yang mau mengalah. Sama-sama sakti Mandraguna. Dan seperti kebanyakan cerita-cerita klasik, Arjuna yang membela Pandawa (kubu 'kebenaran') pun menang setelah mengeluarkan panah Pasopati, senjata pamungkas pemberian ayahnya sewaktu ia bertapa sebelum pecahnya perang saudara. Karna, karena berpihak kepada Kurawa (kubu 'salah') meskipun ia membela Hastina negerinya, bukan keangkaramurkaan Kurawa, harus puas menerima nasib sebagai pihak yang gugur dan dikalahkan. Demikian skenario para dewata. Apakah itu hukum alam? Skenario yang disusun memang seperti itu, sehingga Kurawa harus kalah. Meskipun Adipati Karna ada di pihaknya, meskipun Resi Bisma, resi mahasakti tak terkalahkan, figur ksatria ideal dan teladan yang rela berkorban untuk hati nuraninya, yang sampai-sampai dia boleh memilih sendiri hari kematiannya, sebelum dia mau dia belum mati, meskipun ribuan panah menancap di dadanya, meskipun racun yang ganas menyerang tubuhnya, meskipun sejuta tebasan golok di lehernya. Dan kenyataan yang diterima memang demikian.

*** Karna bukannya tidak tahu penyebab perang saudara, bukannya tidak mengerti bagaimana Sengkuni selaku Mahapatih Hastina yang penjilat dan 'pengadu domba' ulung itu yang karena dendam pribadinya kepada ayah Pandawa (Pandu Dewanata) –lebih jauh baca buku-buku tentang Mahabharata--, 'mengkilik-kilik' Kurawa agar terjadi perang saudara tersebut. Pihak Pandawa dengan dibantu Kresna berusaha sekuat tenaga menghindari perang saudara itu, namun Sengkuni selalu membujuk Kurawa agar meneruskan pertentangan menjadi perang. Karna tahu semua itu. Dia bahkan tahu luar dalam bagaimana pribadi dan akhlak Pandawa yang terpuji, berkebalikan seratus delapan puluh derajat dengan Kurawa. Namun, kembali lagi, Karna hanya membela tanah airnya, Hastinapura. Karena hutang budinya itulah, dia mempertaruhkan nyawa dan bahkan kehormatannya selaku ksatria dengan rela dianggap pembela kejahatan. Dia hanya menuruti apa kata hati nuraninya.

***

Dan, akhrnya Karna pun berada di Surga bersama Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa (Pandawa Lima), dan juga ksatria lainnya. [N.F] Bandung, 14 Oktober 1997

Apa sih BKPMRI itu ? (Laporan perintisan hubungan Hulu PAS dengan BKPMRI)

Sebelumnya saya yakin kakak-kakak banyak yang telah mengenal metoda Iqro, yaitu metoda yang digunakan oleh TKA-TPA di berbagai daerah di Indonesia. Penemu metoda Iqro itu adalah Bapak KH. As'ad Humam dari Yogyakarta yang konon telah meneliti metoda tsb dejak th. 50-an. Metoda Iqro merupakan salah satu dari lk. 25 metoda baca Al-quran seara cepat yang ada di Indonesia yang diturunkan (kelanjutan) dari metoda Bagdadiyah yang telah ada sejak 736 m ( disempurnakan 1711 dengan hanya belajar selama 6 bulan, diharapkan sudah dapat membaca Al-quran (bandingkan dengan metoda Bagdadiyah yang memerlukan waktu bertahun-tahun). Lalu apa sih BKPMRI itu, yang namanya selalu dikait-kaitkan dengan berkembangnya TPA-TKA di Indonesia ? BKPMRI (Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia) adalah badan yang didirikan pada 13 September 1977 di masjid Istiqomah Bandung (nama pertamanya BKPMI). Tujuannya yaitu membina remaja pemuda masjid yang senantiasa memakmurkan masjid dengan berpegang teguh pada prinsip-prinsip aqidah, ukhuwah dan dakwah Islamiyah. Pada tanggal 9-13 Januari 1989 DPP BKPMRI mengadakan latihan manajemen dakwah di masjid Baiturahman Kotagede, Yogyakarta yang dihadiri oleh utusan dari 13 propinsi seluruh Indonesia. Pada pembukaan LMDP itu tampil qori/qoriah cilik usia 4-5 tahun dari TK Alquran binaan Tim tadarus Angkatan muda masjid musholla (Amm) Kotagede Yogyakarta. Selanjutnya peserta LMDP melakukan peninjauan dan dialog dengan pengasuh tim tadarus Amm. Dalam peninjauan dialog itu, Bapak As'ad Human mengharapkan agar TK-Alquran menjadi program nasional.. Pada munas V BKPMRI 27-30 Juni 1989 di Surabaya yang dibuka oleh Bapak Harmoko (menpen) TK Al-quran dijadikan pergram Nasional, dan untuk peng koordinasiannya dibentuklah lembaga pembinaan dan pengembangan TK Al-Quran (IPPTKA-BKPMRI). Sampai saat ini ada hal-hal yang menarik dari IPPTKA-BKPMRI :

1. Metoda cara belajar "semua"aktif Berbeda dengan cara belajar siswa aktif (CBSA juga), pada CBSA ini diharapkan yang aktif adalah pengajar dan adik binaannya. Jadi bukan adiknya yang sibuk balajar manun juga pengajar harus aktif dalam proses mengajar sehingga tujuan pembelajaran akan tercapai dengan efesien dan efektif. Ciri-ciri CBSA : 1.situasi kelas menantang murid untuk melakukan kegiatan belajar secara bebas tapi terkendali. 2.Pengajar tidak mendominasi pembicaraan, tetapi lebih banyak memberikan rangsangan berpikir kepada adik binaannya. 3.Kegiatan adik binaan bervariasi. 4.Hubungan pengajar dan adik binaannya mencerminkan hubungan manusiawi sebagai Bapak, ibu, anak atau teman. 5.Situasi dan kondisi kelas tidak kaku dan terikat 6.Pengajar senantiasa menghargai pendapat adik binaannya, terlepas dari benar atau salah.

2. Asistensi Bila kekurangan tenaga pengajar, maka dapat memanfaatkan adik binaan yang kebih tinggi atau yang lebih mahir untuk mengajar kepada teman-temannya.

3. Metoda Iqro dari LPPTKA BKPMRI telah "Go Internasional". Metoda Iqro diantaranya pernah dicoba di Jeddah, Arab Saudi dan di Amerika Serikat (militer).

Bagi PAS, LPPTKA-BKPMRI seharusnya dapat dijadikan sebagai "Mitra" ataupun sebagai "Induk". Beberapa hal yang bisa menjadi peluang kerja sama yaitu : 1.Sumber pengadaan ataupun pemasaran media pendidikan, baik bagi PAS maupun BKPMRI. contoh ada poster doa-doa, poster cara-cara sholat, lagu-lagu khas TPA-TKA yang belum di koleksi oleh PAS. 2.BKPMRI dapat dijadikan tempat sumber tenaga penatar ataupun sebagai tempat calon penatar bagi pembina yang tertarik untuk menjadi tenaga penatar (bisa sampai tingkat penatar Internasional).

Kadept. Hulu

K' Luqi Al Bagari

Wanita Oh Wanita...

oleh : Toyib At-Tanzarany

Guru yang pertama dan paling utama adalah orang tua (terlebih wanita). Begitulah orang bijak pernah berkata. Konon katanya "pewarnaan" banyak dihasilkan oleh wanita. Berat memang menjadi seorang wanita, masalahnya dalam keberadaannya wanita mempunyai 'keinginan', padahal keinginan tersebut belum tentu semuanya benar (menurut agama tentunya). Nabi bersabda , "Umatku-umatku, Wanita-wanita, jagalah wanita karena penyebab kehancuran Bani Adam adalah wanita. Oleh karenanya wanita harus berterimakasih yang amat sangat karena Nabi memperhatikan dan wanti-wanti sekali terhadap keberadaan wanita. Makanya kita yang nota bene sebagai pejuang dalam lingkungan kecil (PAS) jangan sekali-sekali melupakan sabda Nabi : "Telah aku tinggalkan dua perkara, tidak akan tersesat selama-lamanya jika berpegang kepada keduanya : Al Qur'an dan As Sunnah." Mungkin dalam kondisi keseharian kita, kita terlalu lupa akan sabda Nabi, kita terlalu lupa akan firman Allah : "Jangan berlebih-lebihan, sesungguhnya Allah tidak suka pada orang yang berlebih-lebihan, berlebih-lebihan dalam berucap, tertawa, bercanda dan sebagainya- dan sebagainya. Astaghfirullaahal 'adziim. Wanita harus berterimakasih sekali kepada Nabi karena dahulu bangsa Arab tidak senang kalau yang lahir adalah bayi perempuan karena mereka memandang wanita sebagai pembawa malapetaka, oleh karena itu mereka mengubur anak-anak perempuannya hidup -hidup. Bila telah membunuh anak perempuannya, sang ayah merasa telah terlepas dari aib dan kemiskinan yang menghantuinya. Sebagian besar bangsa Yahudi menganggap anak perempuan lebih rendah dari laki-laki, bahkan martabatnya disamakan dengan budak. Apabila di dalam keluarga terdapat saudara laki-laki, maka anak gadisnya tidak mendapatkan hak waris. Di samping itu, sang ayah diperkenankan menjualnya selagi sang putri belum dewasa. Dan akhirnya sekali lagi wanita harus berterimakasih kepada Nabi, caranya implementasikan, aktualisasikan, laksanakan ajaran Nabi semaksimal mungkin. Dakwahlah di ingkungan kita masing-masing (da'wah bil hal setidaknya). Wanita muslimah yang konsisten harus berbeda dengan wanita yang 'biasa-biasa saja/non muslim'. Akan jadi apa seorang anak (adik PAS) tergantung siapa yang menjadikannya, genit, cerewet, cerdik, kalem, shaleh/ah. Wallaahua'lam. Hai wanita...jaga suaramu, jaga auratmu, jaga dirimu !

"Sesungguhnya akhir itu lebih baik dan lebih kekal."

KESEIMBANGAN

Oleh : Riva Mukziza

Seimbang dalam hal apa? Kali ini yang akan dibahas adalah keseimbangan antara ibadah ghairu mahdhoh (kuliah, aktivitas di luar kuliah, dll) dengan ibadah mahdhoh. Hablumminannas dengan habluminallah.

Hati berjalan menuju Allah dengan kekuatannya sendiri (dengan pertolongan Allah tentu saja). Kalau seseorang sakit karena virus hati, maka kekuatan hati akan lemah. Jika kekuatan itu musnah semuanya, maka terputuslah ia dari Allah. Sedangkan untuk kembali akan sangat sulit. Imam Ibnul Qoyyim berkata, "Di dalam hati ada kekacauan yang tidak dapat ditertibkan kecuali datang kepada Allah. Ada kotoran yang tidak dapat dihilangkan kecuali mendekatkan diri pada Allah. Ada kegelisahan yang tak dapat tenang kecuali berkelompok karena Allah dan segera menuju pada-Nya. Ada api kesedihan yang tak dapat dipadamkan kecuali ridha atas putusan dan peritnah Allah, tetap bersabar sampai berjumpa dengan-Nya. Ada kebutuhan yang tak dapat dipenuhi kecuali harus mencintai dan kembali pada-Nya. Selalu mengingat Allah, benar-benar ikhlas. Seandainya dunia dan isinya diberikan kebutuhan tersebut tidak tertutupi." Langkah pertama perbaikan menurut Imam Al Banna adalah Shalahu nafsi (memperbaiki jiwa). Hendaknya kita tidak merasa cukup terhadap apa yang ada pada kita. Perjalanan ini panjang, perbekalan kita minim dan jalan-jalan lain begitu banyak. Maka kita masih membutuhkan perbekalan, pertolongan dan uluran tangan Allah. Rasulullaah SAW dan para sahabat pada siang hari sibuk mencari nafkah (dalam konteks ibadah) bagaikan singa, sedangkan malam harinya bagaikan rahib yang senantiasa mendekatkan diri kepada Allah saat makhluk lebih suka terlelap. Sekarang coba introspeksi diri kita. Lha....boro-boro seimbang..Siang sibuk kuliah, ngerjain tugas, praktikum, dan beraktivitas baik di lembaga da'wah atau pun organisasi lainnya. Semuanya itu ibadah, sih (tapi, inget ! Kumaha niat). Nah trus malemnya refreshing....yang nonton film, yang dengerin radio all night long, yang baca novel yang nggak mutu, yang ngegosip di telpon, dll deh. Jam 10 tidur, trus bangun jam empat dua puluh sholat subuh. Abis sholat 4 menit, kayak abis ngelepas beban trus tidur lagi deh. Jam enam bangun, mandi makan, ke sekolah. Begitulah rutinitas. Pertanyaannya adalah, berapakah waktu yang kita luangkan untuk mencari ilmu untuk memperkaya ruhiyah kita ? Cukupkah bila cuma seminggu sekali dengan waktu hanya 1-2 jam untuk mengimbangi kegiatan kita yang seabrek itu untuk terus menjaga niat kita di jalan yang benar? Menjaga hati itu sulit lho! Walau pun aktivitas kita mungkin di bidang da'wah (dalam rangka ibadah), tapi tanpa ada keikhlasan dalam hati....kelupaan kita bahwa yang kita lakukan semata-mata karena Allah. Dan jika hati kita sudah kesat, karena minimnya kita mendekatkan hati kita kepada Allah, maka pertolongan Allah akan terhenti. Adapun cara-cara mendekatkan diri pada Allah banyak sekali, yaitu : 1. Sholat tahajud secara rutin "Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah untuk sembahyang di malam hari keculai sedikit daripadanya, yaitu seperduanya atau kurangilah sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Qur an perlahan-lahan. Sesungguhnya bangun di tengah malam itu adalah lebih tepat ( untuk khusyu') dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. Sesungguhnya pada siang hari kamu mempunyai urusan yang banyak. Sebutlah nama Tuhanmu dan beribadatlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan." (Q.S. 73:1-8)

2. Baca surat cinta dari Allah alias Al Qur'an dan terjemahnya / tafsirnya secara rutin (jangan kebanyakan dengerin lagu funky tuh...bisa kebal nanti hati terhadap ayat Allah) 3. Tadabur alam 4. Tausiyah 5. Rajin ke ta'lim untuk dengerin ceramah dan diskusi, dahkan lebih baik lagi jika kita punya kelompok mentoring (kita yang dimentor) kayak waktu SMA duluuu...sebagai ajang tausiyah...ajang ingat kepada Allah... 6. Dan masih banyak lagi....be creatif but Islami, friends..

Percaya deh...jika itu kita lakukan, kesibukan-kesibukan yang kita lakukan akan terasa lebih ringan dan hati kita akan semakin peka dan open terhadap hidayah Allah, keikhlasan kita juga akan senantiasa terjaga. Jika ikhlas, Insya Allah kegiatan yang kita kerjakan semua adalah ibadah. Jika tidak ikhlas, walau pun kegiatan segunung yang sebenarnya bisa dijadikan ibadah, mungkin sebagian nggak ada artinya di mata Allah. Allah tidak melihat hasil, tapi usaha kita. Pertanyaannya adalah," Apakah kita sudah benar-benar berusaha?" Rasulullah bersabda,"Sesungguhnya Allah berfirman : Tidaklah seorang hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Kusukai selain dari amalan-amalan wajib dan seorang hamba-Ku senantiasa mendekat pada-Ku dengan melakukan amalan-amalan sunah, sehingga Aku mencintainya. Apabila Aku mencintainya, maka Aku-lah yang menjadi pendengarannya, dan sebagai tangan yang digunakannya untuk memegang dan kaki yang dia pakai untuk berjalan, dan apabila ia memohon pada-Ku pasti Kukabulkan, dan jika ia berlindung pada-Ku pasti Kulindungi." (H.R. Bukhari )

HATI YANG KESAT

Berkata Ibnul Qoyyim Rahimahullah : " Tidaklah seorang hamba ditimpakan iqab (hukuman) yang paling besar dari pada hati yang kesat jauh dari Allah. Ketahuilah bahwa Allah telah menjadikan api untuk meleburkan hati yang kesat. Dan hati yang kesat adalah hati yang paling jauh dari Allah. Bila hati kesat maka akan tertahan untuk mengeluarkan air mata. Kekesatan hati bisa muncul karena empat hal yang dilakukan secara berlebihan yaitu makan, tidur, berbicara, dan berbaur dengan manusia. Sebagaimana badan tidak bermanfaat bagi makanan bila ia sedang sakit; begitu pula hati, bila sakit, nasihat tidak berguna untuknya."